PUMP KKP

Pengembangan Usaha Mina Pedesaan Kelautan dan Perikanan

Industri Pengolahan Lebih Meminati Ikan Lokal

JAKARTA, KOMPAS -Kalangan nelayan berharap pemerintah mendorong kemampuan mereka menangkap ikan ketimbang mengimpor ikan. Apalagi industri pengolahan, seperti usaha pembuatan pindang, lebih suka ikan lokal dibanding ikan impor.

Nelayan Lamongan, Jawa Timur, Sudarlin, yang dijumpai pada Jumat (9/12), memaparkan, izin impor ikan untuk industri pengolahan akan memperburuk nasib nelayan. Seharusnya pemerintah memperbanyak pabrik pengolahan ikan agar tangkapan ikan terserap. Di Lamongan saja per tahun rata-rata ada 61 ton ikan hasil tangkapan. Dari jumlah itu baru 30 persen yang terserap ke industri olahan.
“Kami menolak impor ikan karena bisa merampas kehidupan nelayan. Pemerintah seharusnya memberikan edukasi cara menangkap ikan yang memenuhi standar, termasuk higienitasnya. Bila produk hasil tangkapan nelayan sesuai standar, tidak perlu impor,” tuturnya.

Umam Thohari, nelayan di Ujungpangkah, Gresik, Jawa Timur, mengusulkan agar nelayan diberi bantuan alat tangkap yang memadai. Nelayan bisa melaut lebih jauh dan mendapat ikan sesuai standar untuk olahan.

Ketidakstabilan pasokan ikan lokal memang dikeluhkan kalangan industri pengolahan ikan. Taryuni, pengelola usaha pengasapan ikan tradisional di Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, mengeluhkan ketidakstabilan pasokan ikan lokal, seperti tongkol, pari, dan layang, uinruk bahan baku pengasapan. Namun, ikan lokal tetap dipilih karena lebih segar dan pasarnya luas.

Kendalanya, pasokan yang tidak menentu memicu harga ikan menjadi tidak stabil. Harga ikan tongkol untuk bahan baku pengasapan Rp 90.000-Rp 100.000per kardus berisi 115 ekor. Setelah pengasapan, harga ikan menjadi Rp 900-Rp 1.000 per ekor.

Hal serupa disampaikan pelaku usaha pembuatan pindang di Kabupaten Indramayu, Cirebon, dan Kota Cirebon, Jawa Barat Pasokan ikan lokal yang tidak menentu membuat sentra “produksi pindang di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Plumbon, Cirebon, mengandalkan pasokan ikan salem (makarel) dari China

Padahal, ikan salem beku di dalam kardus kondisinya kurang segar, yakni mata ikan menjadi merah, daging keras, serta tidak dikerubungi lalat Pelaku usaha mengaku khawatir ikan beku itu mengandung bahan pengawet Namun,” mereka tetap membeli untuk memenuhi permintaan.

Juwariah, pembuat pindang di

Desa Pesanggrahan, menuturkan, ia lebih memilih ikan layang dan tongkol pasokan lokal karena lebih segar dan harganya cenderung murah.

Namun, pasokan ikan lokal tidak menentu, yakni berlimpah saat musim panen, Agustus-Ok-tober 2011, serta menurun di luar masa panen sehingga harga terdongkrak naik.

Teguh, pemasok ikan ke usaha pembuatan pindang di Cirebon, menyebutkan, ikan salem asal China didatangkan dari Jakarta ke Tempat Pelelangan Ikan Tegal dan disalurkan ke lokasi pembuatan pindang.

Sementara itu, pelaku ekspor ikan hiu di Sidoarjo, Hariyanto CP, menegaskan, impor ikan yang dikatakan merupakan konsekuensi logis dari tuntutan industri perikanan tak bisa diterima begi-tu saja mengingat Indonesia merupakan produsen ikan. Ketidakberdayaan nelayan karena tidak mampu memenuhi volume dan kualitas industri tidak bisa semata-mata disebut, sebagai kesalah-an nelayan. Sebab, selama ini memang tidak ada upaya untuk mendorong nelayan tangkap bisa berproduksi lebih baik.

Penulis: PUMP (Pengembangan Usaha Mina Pedesaan)

Informasi seputar Program PUMP-PB KKP

Komentar ditutup.