PUMP KKP

Pengembangan Usaha Mina Pedesaan Kelautan dan Perikanan

Target Produksi Nasional Kerapu Tercapai 148,55 Persen, Semua Provinsi Mencapai Target

Komoditas budidaya laut pada umumnya memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dan biasanya merupakan komoditas ekspor. Salah satunya adalah ikan kerapu yang sudah banyak dibudidayakan di Indonesia dengan pasar ekspor.

Kerapu dikenal sebagai ikan karnivora karena budidaya ikan kerapu sebaiknya menggunakan ikan rucah. Kerapu yang dalam bahasa inggrisnya disebut grouper ini, merupakan jenis ikan memiliki banyak spesies antara lain, kerapu bebek, kerapu macan, kerapu sunu, kerapu lumpur dan lainnya.Saat ini, kerapu bebek dan kerapu macan yang banyak dibudidayakan oleh para pembudidaya. Kerapu bebek memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dibandingkan dengan kerapu lainnya termasuk kerapu macan. Harga ikan kerapu bebek berkisar 400.000-an ditingkat pembudidaya untuk pasar ekspor.

Kerapu dapat dipelihara tidak hanya di laut dengan metode karamba jarring apung namun dapat pula di pelihara di perairan payau dalam tambak namun para pembudidaya saat ini lebih banyak memelihara ikan kerapu pada karamba jarring apung karena itu produksi ikan kerapu lebih banyak dihasilkan dari budidaya laut.

Kendala dalam pemeliharaan ikan kerapu terletak pada investasi yang tidak murah terutama untuk pembuatan karamba jarring apung dan juga sumber benihnya namun saat ini keberadaan benih ikan kerapu tidak lagi mengandalkan alam seiring dengan telah berhasilnya Balai Budidaya Laut yang dimiliki Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya mengembangkan pembenihan ikan kerapu secara massal sehingga kebutuhan akan benih kerapu terutama kerapu bebek dan macan dapat dipenuhi sehingga diharapkan produksi ikan kerapu akan stabil dan akan terus naik setiap tahunnya dan tentu saja target yang dibebankan dapat digapai.

Selain itu permasalahan akan benih kerapu saat ini sudah mulai dapat di atasi pula dengan telah berkembangnya pembenihan dengan skala kecil atau skala rumah tangga. Dengan berkembangnya pembenihan skala kecil ini semakin memudahkan para pembudidaya untuk memelihara ikan kerapu karena tidak akan kesulitan lagi dalam mencari benih.

Kerapu sangat cocok dan potensial untuk dipelihara di perairan Indonesia. Potensi pengembangan kerapu sangat terbuka. Apalagi bila melihat potensi budidaya laut yang dimiliki Indonesia masih terbuka lebar. Saat ini pemanfaatan wilayah potensi budidaya laut hanya sebesar 1,21 persen. Total potensi budidaya laut Indonesia sebesar 3.776.000 ha dan yang sudah dimanfaatkan sebesar 45.676 ha. Selain itu, mengapa prospek budidaya kerapu sangat potensial terutama merujuk pada permintaan dunia akan kerapu cenderung meningkat baik dari sisi kuantitas maupun harganya. Total permintaan produksi kerapu saat ini mencapai 35.000 ton per tahun dengan kisaran harga US$ 25 – US$ 125.

Produksi ikan kerapu secara nasional selama empat tahun terakhir sejak 2007 sampai dengan 2010 cukup baik walaupun sempat mengalami penurunan produksi pada tahun 2008 tetapi pada tahun selanjutnya terus mengalami kenaikan bahkan pada tahun 2010 yang lalu produksi naik cukup signifikan. Kenaikan rata-rata ikan kerapu selama empat tahun terakhir sebesar 18,73 persen dan kenaikan tertinggi selama 4 tahun ini adalah terletak pada tahun 2010 dengan kenaikan produksi sebesar 18,28 persen. Kenaikan produksi ikan kerapu pada tahun lalu merupakan prestasi yang cukup membanggakan karena Perikanan Budidaya berhasil memacu peningkatan produksi dari tahun 2009 sebesar 8.791 ton menjadi 10.398 ton pada tahun 2010.

Produksi ikan kerapu secara nasional sempat turun di tahun 2008. Tahun 2007 produksi ikan kerapu secara nasional telah mencapai 8.039 ton lalu turun di tahun 2008 menjadi sebesar 5.005 ton. Turunnya produksi ikan kerapu secara nasional akibat menurunnya produksi ikan kerapu sebagian besar provinsi.

Penurunan produksi ikan kerapu ini juga melibatkan provinsi yang selama ini dikenal sebagai sentranya penghasil ikan kerapu antara lain, Kepulauan Riau yang produksi ikan kerapunya turun drastis.

Pada tahun 2007, produksi ikan kerapu Kepulauan Riau mencapai 3.587 ton dan turun menjadi 906 ton pada tahun 2008. Provinsi Aceh yang termasuk pula sentranya budidaya ikan kerapu yang mengalami penurunan produksi. Tahun 2007 produksinya mencapai 1.410 ton dan tahun 2008 turun menjadi 529 ton.

Bila dilihat secara keseluruhan ada 11 provinsi dari 25 provinsi yang mengalami penurunan produksi ikan kerapu bahkan ada provinsi yang tidak ada produksi sama sekali di tahun 2008 setelah sempat ada produksi di tahun 2007.

Akibat adanya penurunan produksi yang dialami sebagian besar provinsi inilah yang menyebabkan produksi ikan kerapu secara nasional mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Tidak semua provinsi mengalami penurunan produksi pada saat itu. Ada pula provinsi yang produksinya naik di tahun 2008 bahkan cukup stabil produksi ikan kerapunya di tahun selanjutnya.

Pada tahun 2010 ini, produksi ikan kerapu secara nasional naik dan terus menunjukan tren kenaikan. Beberapa daerah sentra budidaya ikan kerapu yang sempat anjlok produksinya kembali merangkak naik produksinya. Kepulauan Riau pada tahun 2010, produksi naik tinggi menjadi 3.200 ton.

Produksi ikan kerapu selama 4 tahun ini cukup fluktuatif bahkan beberap daerah mengalami tren penurunan seperti provinsi Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Pada tahun 2010, produksi ikan kerapu beberapa provinsi mengalami penurunan bahkan beberapa diantara turun cukup drastis yaitu provinsi Maluku (tahun 2009 sebesar 1.815 ton menjadi 49 ton di tahun 2010) menurun sebesar 97,33 persen, Maluku Utara (tahun 2009 sebesar 809 ton menjadi 172 ton di tahun 2010) menurun sebesar 78,69 persen, dan Papua Barat (tahun 2009 sebesar 526 ton menjadi 136 ton di tahun 2010).

Penurunan produksi ikan kerapu ketiga provinsi ini tidak mempengaruhi data secara nasional karena beberapa provinsi mengalami kenaikan tinggi yaitu Kepulauan Riau, Aceh dan Sumatera Utara. Selain itu, beberapa daerah mulai melakukan budidaya ikan kerapu dengan hasil yang cukup tinggi yaitu Jawa Barat dan Banten.

Tidak semua provinsi mengalami fluktuatif data atau pun mengalami penurunan, ada beberapa provinsi yang produksinya cukup stabil dan terus menunjukkan tren positif setiap tahunnya yaitu provinsi Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat dan Gorontalo. Khusus untuk Sumatera Selatan, sejak tahun 2008 telah bermetamorfosa menjadi salah satu sentra penghasil ikan kerapu setelah sebelumnya tidak ada produksi sama sekali pada tahun 2007. Saat ini produksi ikan kerapu Sumatera Selatan telah mencapai sebesar 392 ton pada tahun 2010 yang lalu.

Capaian target produksi ikan kerapu secara nasional pada tahun ini sebesar 148,55 persen dimana target produksi ikan kerapu pada tahun 2010 sebesar 7.000 ton sedangkan produksi sebesar 10.398 ton.

Capaian target produksi yang cukup besar ini karena banyaknya provinsi yang mampu melebihi target yang telah ditetapkan. Beberapa provinsi yang capaian targetnya sangat tinggi yaitu provinsi Sulawesi Tengah, Sumatera Utara dan beberapa daerah lainnya. Sedangkan provinsi dengan capaian terendah adalah provinsi Sulawesi Selatan yang tidak ada produksinya sama sekali pada tahun 2010.

Beberapa provinsi yang tidak ditargetkan ada produksi ikan kerapu ternyata mampu memproduksi ikan kerapu yaitu provinsi Jawa Barat, Banten dan Papua. Khusus provinsi Jawa Barat dengan produksi sebesar 234 ton pada tahun 2010 menjadikan provinsi ini yang sebelumnya tidak ditargetkan menjadi salah satu penghasil ikan kerapu dan membantu produksi ikan kerapu secara nasional disaat sebagian besar provinsi penghasil kerapu mengalami penurunan produksi bahkan ada provinsi yang tidak sama sekali mampu memproduksi ikan kerapu padahal telah ditargetkan.

Berdasarkan table di atas dapat diambil kesimpulan bahwa banyak provinsi yang mampu memenuhi atau melebihi target yang telah ditetapkan namun tidak sedikit pula yang tidak mampu memenuhi target yang telah dibebankan. Sebanyak 7 provinsi capaian target produksinya di bawah 50 persen diantaranya yang capaian targetnya rendah dan produksinya rendah adalah Maluku, Maluku Utara dan Kalimantan Timur yang sebenarnya adalah provinsi-provinsi yang diharapkan produksi ikan kerapunya besar. Total provinsi yang ada kegiatan budidaya ikan kerapu ada sebanyak 27 provinsi namun yang ditargetkan untuk memenuhi target produksi ikan kerapu secara nasional hanya sebanyak 24 provinsi.

 

Penulis: PUMP (Pengembangan Usaha Mina Pedesaan)

Informasi seputar Program PUMP-PB KKP

Komentar ditutup.