PUMP KKP

Pengembangan Usaha Mina Pedesaan Kelautan dan Perikanan

Bangli, Sentra Budidaya KJA Nila

Kabupaten Bangli adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi Bali. Kabupaten Bangli adalah satu-satunya kabupaten di Bali yang tidak memiliki pantai/laut. Bangli secara geografis berbatasan dengan Kabupaten Buleleng di sebelah utara, kabupaten Klungkung dan Karangasem di timur, dan kabupaten Klungkung, Gianyar di selatan serta Badung dan Gianyar di sebelah barat. Kabupaten Bangli terletak diantara 1150 13’ 48” sampai 1150 27’ 24” Bujur Timur dan 80 8’ 30” sampai 8 31’ 87” Lintang Selatan.

Kabupaten Bangli sebagian besar daerahnya merupakan dataran tinggi, hal ini berpengaruh terhadap keadaan iklim di wilayah ini. Keadaan iklim dan perputaran atau pertemuan arus udara yang disebabkan karena adanya pegunungan didaerah ini yang menyebabkan curah hujan didaerah ini relatif tinggi. Hal ini terjadi pada bulan-bulan Januari, Maret, April dan Desember.Secara administratif Kabupaten Bangli terbagi menjadi empat daerah kecamatan yaitu Kecamatan Kintamani, Kecamatan Tembuku, Kecamatan Susut dan Kecamatan Bangli. Mempunyai 72 Desa/kelurahan dengan 332 banjar dinas/lingkungan. Dari 72 desa/kelurahan tersebut sebanyak 48 desa/kelurahan berada di Kecamatan Kintamani Selain desa/kelurahan administratif terdapat juga desa pekraman sebanyak 159 buah yang merupakan lembaga tradisional yang memiliki hak otonomi dalam menjalankan pemerintahannya.

Berdasarkan kriteria desa perkotaan (urban) dan desa perdesaan (rural), di Kabupaten Bangli terdapat 4 desa perkotaan dan sisanya 68 desa merupakan desa perdesaan. Dengan demikian setiap program pembangunan yang diarahkan ke tingkat desa nantinya diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan selanjutnya dapat meningkatkan status desa yang bersangkutan dari perdesaan menjadi perkotaan seiring dengan peningkatan kesejahteraan dan ketersediaan infrastruktur di desa bersangkutan.

Luas wilayah Kabupaten Bangli sebesar 520,81 Km2 atau 9,25% dari luas wilayah Propinsi Bali. Ketinggian dari permukaan laut antara 100 – 2.152 m sehingga tanaman apa saja bias tumbuh didaerah ini. Secara fisik dibagian selatan merupakan daerah dataran rendah dan bagian utara merupakan pegunungan. Puncak tertinggi adalah Puncak Penulisan, terdapat Gunung Batur dengan kepundannya Danau Batur yang memiliki luas sekitar 1.067,50 Ha. Jarak dari Ibukota kabupaten ke Ibukota Propinsi sekitar 40 Km.

Dengan karakteristiknya yang tersebut di atas, pada dasarnya Bangli memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sentra produksi perikanan budidaya terutama budidaya ikan nila dengan memanfaatkan perairan Danau Batur. Danau Batur yang menjadi salah satu obyek wisata dapat diintegrasikan dengan perikanan namun perlu diperhatikan masalah kesehatan lingkungan. Dengan luasan danau seperti tersebut di atas merupakan potensi bagi pengembangan budidaya dengan system karamba jarring apung.

Sub sektor perikanan budidaya mempunyai peranan yang strategis sebagai sumber pertumbuhan baru dalam upaya meningkatkan perekonomian Kabupaten Bangli di masa mendatang terutama perikanan budidaya di perairan Danau Batur. Komoditi perikanan yang paling potensial untuk dikembangkan di danau Batur dengan sistem Keramba Jaring apung (KJA) adalah ikan nila. Alasan pemilihan komoditas nila ini juga dikarenakan masyarakat sekitar yang lebih menyukai ikan nila dibandingkan dengan ikan lainnya. Alasan lain dari pengembangan budidaya ikan dengan komoditas nila dikarenakan kawasan danau Batur sangat cocok untuk pengembangan budidaya ikan nila. Konsep satu kawasan, satu produk yang diterapkan pemerintah Bali semakin menegaskan mengapa komoditas nila saja yang dikembangkan.

Perkembangan produksi perikanan budidaya Bangli selama beberapa tahun terakhir cukup bagus. Apalagi di tahun 2010 ketika mulai dikembangkannya budidaya ikan nila dengan system Karamba Jaring Apung yang memanfaatkan perairan Danau Batur yang selama ini belum dimanfaatkan. Produksi perikanan budidaya Bangli pada tahun itu pun melonjak karena keberhasilan budidaya ikan nila tersebut.

Danau Batur memegang peranan penting dalam upaya peningkatan produksi perikanan budidaya karena itu ketika terjadi penurunan produksi pada daerah ini, mempengaruhi total produksi perikanan budidaya Bangli. Luas lahan danau Batur yang baru dimanfaatkan sampai dengan tahun 2010 hanya sebesar 3,5 ha dari potensi lahan perairan danau Batur yang dapat dikembangkan masih sangat luas yaitu maksimal 5 – 10% dari luas perairan Danau Batur sebesar 1.607,50 Ha.

Budidaya di danau Batur bukanlah tanpa kendala. Letaknya yang berada persis di gunung Batur membuat perairan yang dimanfaatkan untuk budidaya rentan terhadap penurunan kualitas air akibat adanya akitivas gunung. Fenomena Upweiling sering terjadi di Danau ini karenanya perlu stategi khusus dari pembudidaya dalam mengantisipasi fenomena ini. Fenomena upweiling dapat terjadi akibat adanya perbedaan suhu antara air dipermukaan dengan air yang ada di dasar perairan. Akibat perbedaaan suhu inilah terjadi perputaran air. Kondisi dasar danau yang mengandung zat belerang dan H2S.

Kejadian seperti ini yang menyebabkan adanya kematian ikan secara massal di Danau Batur, Bangli merupakan siklus tahunan yang terjadi mulai awal Juni sampai pertengahan Agustus. Kematian ikan tersebut karena adanya upwelling (pembalikan lapisan air) akibat adanya penurunan suhu pada permukaan air. Sementara di lapisan air bagian bawah, suhu tetap hangat sehingga lapisan air di bagian bawah ini naik ke atas. Karena air di bagian bawah ini mengandung belerang dan H2S yang bersifat racun bagi ikan sehingga ketika naik ke atas, mengakibatkan kematian pada ikan. Pembudidaya harus waspada dan cermat dalam berbudidaya di kawasan ini. Apalagi fenomena seperti ini merupakan siklus tahun sehingga lebih mudah diantisipasi. Antisipasi terhadap hal ini dapat dilakukan dengan memalukan pemantauan suhu di permukaan air. Jadi, begitu suhu di permukaan air mulai turun, pembudidaya harus mulai waspada dan segera melakukan panen ikan

Selain memanen ikan, untuk mencegah kematian ikan pada kasus tersebut juga bisa dilakukan dengan menambah suplai oksigen menggunakan high blower, namun hal ini memerlukan biaya besar. Terkait hal itu, disarankan agar pembudidaya ikan melakukan pengaturan pola tanam. Ikan dipanen pada bulan Mei dan pada akhir Agustus baru dilakukan penebaran ikan kembali. Pengaturan pola penebaran benih dan panen adalah cara terbaik untuk mengantisipasi hal tersebut.

Kondisi curah hujan di daerah Bangli yang cukup tinggi juga harus diwaspadai karena dengan adanya hujan secara terus menerus dapat menyebabkan kondisi permukaan air menjadi lebih dingin. Kondisi perairan yang dingin selain rentan terhadap terjadi perputaran air bawah ke atas juga dapat menyebabkan ikan berpenyakit. Cuaca yang dingin menyebabkan ikan rentan terhadap penyakit.

Pada tahun ini fenomena upweiling kembali terjadi yang menyebabkan kematian massal ikan nila dalam karamba jarring apung. Sebenarnya kejadian seperti sudah terbiasa dihadapi oleh para pembudidaya karamba jarring apung namun kejadian pada tahun ini sungguh di luar dugaan karena efeknya mengenai hamper seluruh pembudidaya di danau Batur. Biasanya fenomena upweiling dengan kandungan belerangnya tidak terlalu besar dan terlokalisasi namun kejadian pada tahun ini efeknya sangat besar sehingga menyebabkan banyaknya ikan yang mati dan beberapa pembudidaya terpaksa memanen ikan yang belum dalam ukuran siap konsumsi untuk menghindari kerugian yang lebih besar lagi.

Akibat adanya bencana kematian massal ini menyebabkan produksi ikan nila kabupaten Bangli menurun drastic pada triwulan ketiga ini. Pada triwulan III ini produksi ikan nila dari karamba jarring apung menurun menjadi sebesar 103 ton. Pada pada triwulan sebelumnya produksi berada dikisaran 500 ton. Bangli yang mengandalkan ikan nila, dengan kejadian ini otomatis mempengaruhi produksi ikan budidaya kabupaten Bangli.

Total produksi perikanan budidaya Bangli pada tahun 2010 mencapai 1.796 ton dengan perincian budidaya kolam sebesar 96 ton, budidaya sawah sebesar 23 ton, budidaya karamba jarring apung sebesar 1.619 ton dan budidaya dengan metode lainnya sebesar 158 ton. Sampai dengan triwulan III ini produksi perikanan budidaya Bangli mencapai total produksi sebesar 1.178,2 ton dengan perincian produksi budidaya kolam sebesar 106,4 ton, budidaya sawah sebesar 9,7 ton dan budidaya karamba jarring apung sebesar 1.062,1 ton. Berdasarkan komoditas yang diusahakan maka ikan nila sebagai penyumbang total produksi Bangli terbesar yakni sebesar 1.101,2 ton, ikan mas sebesar 54,4 ton, dan ikan lele sebesar 17,9 ton. Dari data diatas tergambar bahwa sampai dengan saat ini ikan nila masih menjadi komoditas unggulan perikanan budidaya Bangli.

Bangli secara kuantitas produksi masih kalah jauh tonasenya dibandingkan dengan kabupaten lainnya terutama kabupaten Badung dan Klungkung namun untuk produksi ikan nila terutama dengan metode karamba jarring apung, Bangli adalah sentranya budidaya tersebut dan produksi tidak ada yang mampu menyaingi di provinsi Bali ini.

Bangli yang tidak memiliki garis pantai ini tentu saja berharap kemajuan perikanan budidayanya dari budidaya di darat berupa kolam dan minapadi dan budidaya di perairan umum berupa karamba jarring apung. Komoditas yang diusahakan di kabupaten ini selain ikan nila, ikan mas dan ikan lele yang dapat dibudidayakan dalam wadah kolam, jarring apung, di saluran irigasi maupun budidaya minapadi terdapat pula komoditas ikan hias yang layak untuk dikedepankan. Sumber : Dede P. (DJPB).

Penulis: PUMP (Pengembangan Usaha Mina Pedesaan)

Informasi seputar Program PUMP-PB KKP

Komentar ditutup.